Minggu lalu pergi ke rumah teman untuk menengok anaknya yang baru lahir. Sampai di sana hujan deras sekali. Memang sekarang sedang musim hujan. Jadilah kami ngobrol agak lama sambil menunggu hujan reda.
Kami mengobrol di ruang tengah yang pintunya langsung menghadap ke arah halaman belakang. Halaman belakangnya ini kulihat sangat luas jika dibanding rumahku. Sekitar delapan puluhan meter persegi. Seharusnya cukup kalau dikapling untuk satu rumah lagi, hehe.... Kulihat di sana hanya ada pohon mangga dan kelengkeng yang masih kecil.
Dengan nada bercanda, kubilang ke temanku. Coba kalau ini halaman belakang rumahku, pasti sudah dihuni puluhan tanaman indukan dan ratusan bibit tanaman buah. Sepertinya kata-kata yang kusampaikan sambil lalu itu cukup menghipnotisnya. Lantas kami pun mengobrol tentang berbagai tanaman, perawatannya, pupuk dan seterusnya.
Akhir-akhir ini harga tanah di jogja sungguh sangat meroket. Sementara kulihat masih banyak orang membiarkan tanah-tanah menganggur. Sebenarnya berbisnis tanaman itu menurutku kendalanya adalah waktu. Untuk berkembang tanaman membutuhkan waktu. Sementara banyak orang tidak menyadari bahwa masalah waktu bisa dicarikan sisa-sisa dari keseluruhan aktivitasnya sehari-hari. Jadi misalkan ngantor dari pagi sampai sore, diluangkan waktu di pagi dan sore sekedar untuk menyiram dan menengok tanaman sekedarnya. Nah, saat akhir pekan kita bisa memupuk dan melakukan perawatan yang lebih intens.
Seiring berjalannya waktu, tanaman akan tumbuh dan menghasilkan sesuatu, misal buah. Atau jika punya lahan pekarangan agak luas, iseng-iseng saja mengembangbiakkan bibit tanaman yang disukai. Lantas bibit pun bisa dijual atau dibagi-bagikan ke tetangga, teman, dan saudara, sekedar untuk buah tangan. Ini sekaligus juga menularkan virus berkebun kepada orang lain. Hehe.... Ok, segitu dulu cerita saya, selamat berkebun di halaman rumah.
Kami mengobrol di ruang tengah yang pintunya langsung menghadap ke arah halaman belakang. Halaman belakangnya ini kulihat sangat luas jika dibanding rumahku. Sekitar delapan puluhan meter persegi. Seharusnya cukup kalau dikapling untuk satu rumah lagi, hehe.... Kulihat di sana hanya ada pohon mangga dan kelengkeng yang masih kecil.
Dengan nada bercanda, kubilang ke temanku. Coba kalau ini halaman belakang rumahku, pasti sudah dihuni puluhan tanaman indukan dan ratusan bibit tanaman buah. Sepertinya kata-kata yang kusampaikan sambil lalu itu cukup menghipnotisnya. Lantas kami pun mengobrol tentang berbagai tanaman, perawatannya, pupuk dan seterusnya.
Akhir-akhir ini harga tanah di jogja sungguh sangat meroket. Sementara kulihat masih banyak orang membiarkan tanah-tanah menganggur. Sebenarnya berbisnis tanaman itu menurutku kendalanya adalah waktu. Untuk berkembang tanaman membutuhkan waktu. Sementara banyak orang tidak menyadari bahwa masalah waktu bisa dicarikan sisa-sisa dari keseluruhan aktivitasnya sehari-hari. Jadi misalkan ngantor dari pagi sampai sore, diluangkan waktu di pagi dan sore sekedar untuk menyiram dan menengok tanaman sekedarnya. Nah, saat akhir pekan kita bisa memupuk dan melakukan perawatan yang lebih intens.
Seiring berjalannya waktu, tanaman akan tumbuh dan menghasilkan sesuatu, misal buah. Atau jika punya lahan pekarangan agak luas, iseng-iseng saja mengembangbiakkan bibit tanaman yang disukai. Lantas bibit pun bisa dijual atau dibagi-bagikan ke tetangga, teman, dan saudara, sekedar untuk buah tangan. Ini sekaligus juga menularkan virus berkebun kepada orang lain. Hehe.... Ok, segitu dulu cerita saya, selamat berkebun di halaman rumah.
No comments:
Post a Comment