Sore itu saya sedang menemani anak-anak yang sedang menggambar dan mewarnai di teras depan rumah. Senja masih ditaburi rintik hujan yang turun kecil-kecil.
Dari jalan depan rumah terdengar suara tek-tek-tek tukang bakso dorong lewat. Sambil berdiri saya hentikan tukang bakso itu dan memesan bakso setelah menanyakan anak-anak, siapa yang mau bakso?
“Saya mauuu...”, anak-anak serempak menjawab.
Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya.
Ada satu hal yang sering saya amati ketika membayar,
abang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Sebagian disimpan di laci, sebagian di dompet, sisanya dimasukkan ke kaleng bekas biskuit. Saya pun bertanya sekedar menuntaskan rasa penasaran selama ini.
“Bang, kenapa kok uang-uang itu dipisahkan?”
“Iya pak, memang sengaja saya memisahkan uang ini selama jadi tukang bakso. Saya hanya ingin memisahkan mana yang menjadi hak saya, mana yang menjadi hak orang lain, dan mana yang menjadi hak cita-cita saya sebagai muslim”.
“Maksudnya…?”, saya bertanya lagi.
“Iya Pak, kan Islam mengajarkan agar kita bisa berbagi dengan sesama.
Uang yang masuk ke dompet untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari untuk keluarga.
Uang yang masuk ke laci untuk infaq, sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso saya selalu berqurban seekor kambing, meskipun kambingnya ukuran sedang saja.
Uang yang masuk ke kaleng, karena ingin menyempurnakan ibadah saya. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji kan butuh biaya besar. Maka saya dan istri sepakat untuk menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan Insya Allah sekitar 2 tahun lagi saya dan istri akan bisa melaksanakan ibadah haji.”
Hatiku sangat tersentuh mendengar jawaban itu. Sungguh jawaban sederhana yang sangat mulia. Bahkan mungkin kita yang memiliki nasib sedikit lebih baik dari abang tukang bakso tersebut, belum tentu memiliki pikiran seperti itu. Seringkali bahkan berlindung di balik alasan tidak mampu atau belum ada rejeki.
Lalu saya melanjutkan sedikit pertanyaan, “Tapi kan ibadah haji itu hanya wajib bagi yang mampu? Termasuk memiliki kemampuan dari segi biaya?
Ia menjawab, “Itulah sebabnya Pak, justru kami malu kepada Allah kalau masih mengeluh soal rezeki karena kami sudah diberi rezeki cukup. Semua orang pasti mampu kok kalau memang niat. Menurut saya kita diberi kebebasan untuk menggunakan kata "mampu" itu. Kalau kita menilai diri sendiri sebagai orang tidak mampu, maka mungkin selamanya kita jadi manusia tidak mampu. Sebaliknya kalau kita menganggap diri sendiri "mampu”, Insya Allah dengan segala kekuasaan Allah akan memberi kemampuan pada kita kok.”
“Masya Allah….”
Diceritakan kembali dari kaskus sebagaimana ditulis di kisahinspirasi.com. Semoga dapat memberi inspirasi untuk kita.
“Saya mauuu...”, anak-anak serempak menjawab.
Selesai makan bakso, lalu saya membayarnya.
abang bakso memisahkan uang yang diterimanya. Sebagian disimpan di laci, sebagian di dompet, sisanya dimasukkan ke kaleng bekas biskuit. Saya pun bertanya sekedar menuntaskan rasa penasaran selama ini.
Uang yang masuk ke dompet untuk memenuhi keperluan hidup sehari-hari untuk keluarga.
Uang yang masuk ke laci untuk infaq, sedekah, atau untuk melaksanakan ibadah Qurban. Alhamdulillah selama 17 tahun menjadi tukang bakso saya selalu berqurban seekor kambing, meskipun kambingnya ukuran sedang saja.
Uang yang masuk ke kaleng, karena ingin menyempurnakan ibadah saya. Islam mewajibkan kepada umatnya yang mampu untuk melaksanakan ibadah haji. Ibadah haji kan butuh biaya besar. Maka saya dan istri sepakat untuk menyisihkan sebagian penghasilan sebagai tabungan haji. Dan Insya Allah sekitar 2 tahun lagi saya dan istri akan bisa melaksanakan ibadah haji.”

No comments:
Post a Comment