Tuesday, August 9, 2016

Kontroversi Full Day School

Rencana kebijakan Full Day School untuk tingkat SD dan SMP menuai kontroversi. Membaca tentang rencana-rencananya sungguh menarik seperti: "Penambahan jam pelajaran siswa bukan berarti menambah bobot belajar siswa di dalam kelas". Jadi siswa nantinya akan diberikan suasana belajar yang berbeda, misalnya di luar ruangan atau bisa juga mengoptimalkan kegiatan ekstra kurikuler. Bagi para orang tua yang dua-duanya bekerja tentunya ini kabar baik. Mereka tidak perlu lagi pusing memikirkan menjemput anak di tengah jam kerja. Atau bingung menitipkan anak di mana agar bisa dijemput sore harinya.

Namun di sisi lain sarana prasarana sekolah masih banyak yang belum siap, seperti misalnya ruang ganti pakaian, kantin yang menyediakan makanan sehat. Jumlah guru dan ruang kelas yang belum mencukupi tentunya juga harus diperhitungkan.

Saat siswa bersekolah sampai sore berarti mereka butuh ganti pakaian untuk bisa mengikuti pelajaran dengan nyaman, tidak lengket akibat keringat dari pagi sampai sore. Sementara itu pada siang hari siswa juga butuh makan siang. Tidak setiap keluarga bisa menyiapkan bekal setiap pagi. Apalagi misalnya suami istri bekerja, tidak ada asisten rumah tangga lantas punya dua atau tiga anak yang harus disiapkan bekalnya. Bayangkan betapa repotnya suasana pagi hari mereka. Untuk itu mestinya di sekolah juga tersedia kantin yang sediakan makanan sehat bagi siswa.

Belum semua sekolah mempunyai guru yang mencukupi terutama di daerah. Masih banyak sekolah yang menggabungkan kelas-kelasnya untuk 'menghemat' guru kelas. Perlu dipikirkan bagaimana nasib guru yang harus mengajar satu kelas dari pagi sampai sore. Apalagi untuk sekolah-sekolah yang terbatas ruang kelasnya sehingga ada kelas pagi dan siang.

Jadi, masih perlu kajian mendalam oleh badan litbang Kementerian Pendidikan. Kalau saya setuju dengan catatan harus ada persiapan yang memadai. Bagaimana pendapat Anda?


No comments: